Wednesday, February 4, 2026

The Third Teacher

gambar : www.amazon.com

Lingkungan pembelajaran pada anak usia dini merupakan fondasi krusial bagi pembelajaran sepanjang hayat, kesehatan, dan kesejahteraan individu. Berdasarkan pendekatan Reggio Emilia, lingkungan dipandang sebagai "guru ketiga" yang memiliki peran setara dengan pendidik dan anak-anak dalam proses instruksional. Lingkungan yang berkualitas tinggi tidak hanya mencakup tata letak fisik, tetapi juga aspek psikososial yang merangsang indra dan memfasilitasi jalur pembelajaran jamak. Melalui penerapan delapan prinsip utama—seperti estetika, kolaborasi, transparansi, dan fleksibilitas—ruang kelas dirancang untuk merefleksikan nilai filosofis pendidik dan menghargai anak sebagai subjek yang kompeten serta memiliki potensi kreatif yang tinggi.

Stop Bikin Otak Membusuk

gambar : www.uvers.ac.id

Pernah merasa otak kayak "penuh sampah" atau jadi susah konsentrasi sehabis kelamaan scrolling video pendek? Hati-hati, itu tandanya kamu kena fenomena "brain rot" atau "pembusukan otak" yang sempat jadi Word of the Year 2024 versi Oxford. Medsos memang asyik banget buat cari hiburan, tapi kalau dipakai nggak bijak, dia bisa jadi pedang bermata dua. Konten receh yang sifatnya repetitive dan nggak edukatif bisa bikin otak kita kecanduan dopamin instan, sehingga malas diajak berpikir berat atau kritis. Alhasil, niatnya cuma mau buka HP sebentar, eh malah kebablasan berjam-jam sampai lupa waktu.

Thursday, October 9, 2025

Mendesak Kesejahteraan Guru, Fondasi Peradaban yang Terabaikan


gambar : www.beritabojonegoro.com

Pendidikan merupakan fondasi utama pembangunan bangsa, namun Indonesia terus menghadapi tantangan serius, terutama terkait kesejahteraan guru. Profesi guru, yang dianggap sebagai fondasi peradaban dan garda terdepan pembangunan sumber daya manusia (SDM), nyatanya masih menjadi sorotan karena kesejahteraannya dinilai belum sepadan. Rendahnya penghargaan yang diterima mengurangi minat masyarakat untuk menjadi guru, dan masalah gaji yang rendah bahkan diakui oleh Menteri Keuangan sebagai salah satu tantangan bagi keuangan negara. Anggota Komisi X DPR RI, Juliyatmono, menegaskan bahwa gaji standar guru idealnya harus mencapai Rp 25 juta per bulan agar profesi ini kembali ideal dan minat terhadapnya meningkat.

Sekolah Rakyat: Antara Niat Mulia Memutus Kemiskinan dan Jerat Kritik Diskriminasi Sosial


gambar : www.indonesia.go.id

Program Sekolah Rakyat (SR), yang diluncurkan sebagai salah satu inisiatif ambisius di bawah pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, didasarkan pada gagasan mulia, yakni untuk memberikan pendidikan terbaik dan gratis dalam konsep boarding school bagi anak-anak dari keluarga miskin dan miskin ekstrem. Tujuan utama program ini adalah memutus mata rantai kemiskinan antar generasi. Program yang diklaim sebagai wujud nyata negara dalam memberikan akses pendidikan berkualitas ini dimulai sejak Juli 2025, dengan 63 lokasi mulai beroperasi dari total 100 titik yang direncanakan beroperasi tahun ini. Meskipun telah dialokasikan anggaran besar—seperti Rp2,14 triliun sepanjang tahun 2025—implementasi SR menuai kritik tajam dan perdebatan, terutama mengenai tata kelola dan dampaknya terhadap sistem pendidikan nasional.

Mitos Meritokrasi Dalam Dunia Pendidikan


gambar : www.thriveglobal.com


Makalah yang menarik dan provokatif ini, berjudul “You Need to be More Responsible”: The Myth of Meritocracy and Teachers’ Accounts of Homework Inequalities, menyelidiki bagaimana para pendidik memahami dan menjelaskan kesenjangan yang terkait dengan pekerjaan rumah (PR), khususnya PR matematika. Studi etnografi longitudinal terhadap guru sekolah dasar dan menengah ini mengungkap penemuan krusial: meskipun para guru menyadari adanya ketidaksetaraan struktural (misalnya, perbedaan status sosial ekonomi atau SES) dalam kehidupan siswa mereka, mereka secara rutin menggunakan mitos meritokrasi untuk menjelaskan perbedaan kinerja PR. Mitos ini menganggap keberhasilan sebagai hasil dari kompetensi, upaya, dan tanggung jawab individu, mengabaikan tantangan struktural yang dihadapi siswa. Oleh karena itu, bagi para guru dalam penelitian ini, perjuangan siswa dengan PR dianggap sebagai produk dari kurangnya motivasi, upaya, atau tanggung jawab siswa (dan, di tingkat dasar, orang tua).