![]() |
| gambar : www.uvers.ac.id |
Pernah merasa otak kayak "penuh sampah" atau jadi susah konsentrasi sehabis kelamaan scrolling video pendek? Hati-hati, itu tandanya kamu kena fenomena "brain rot" atau "pembusukan otak" yang sempat jadi Word of the Year 2024 versi Oxford. Medsos memang asyik banget buat cari hiburan, tapi kalau dipakai nggak bijak, dia bisa jadi pedang bermata dua. Konten receh yang sifatnya repetitive dan nggak edukatif bisa bikin otak kita kecanduan dopamin instan, sehingga malas diajak berpikir berat atau kritis. Alhasil, niatnya cuma mau buka HP sebentar, eh malah kebablasan berjam-jam sampai lupa waktu.
Dampaknya nggak main-main lho, mulai dari daya ingat menurun, sulit fokus, sampai bikin kita gampang cemas dan stres. Kalau kita terbiasa nonton video durasi 15-60 detik terus-menerus, rentang perhatian kita bakal menyempit, jadi gampang bosan kalau harus baca atau nonton sesuatu yang panjang. Belum lagi masalah fisik kayak "tech neck" alias nyeri leher gara-gara kelamaan nunduk natap layar. Penelitian bahkan menyebutkan kalau remaja yang main medsos lebih dari 3 jam sehari punya risiko gangguan mental yang lebih tinggi. Jadi, nggak heran kalau hari-hari terasa kosong atau kurang bersemangat kalau porsi screen time kita cuma buat hiburan dangkal saja.
Biar otak nggak makin "tumpul", yuk mulai atur waktu main medsos paling lama 1–2 jam sehari. Kamu bisa pakai cara mindful consumption, yaitu pilih konten yang berkualitas dan ikuti akun resmi yang tepercaya saja. Jangan ragu buat pakai fitur mute atau block kalau ada konten yang bikin gerah atau toxic. Sesekali, cobalah lakukan detoks digital—libur total dari gadget selama sehari dalam seminggu buat kasih ruang otak istirahat dan berinteraksi langsung sama orang tersayang di dunia nyata. Ingat, privasi juga penting, jadi jangan gampang sebar data pribadi atau terima pertemanan dari orang asing ya!
Selain membatasi medsos, kita perlu melatih otot kognitif lagi dengan kegiatan yang menantang, seperti baca buku, main sudoku, atau belajar logika matematika. Olahraga rutin juga penting banget karena bisa memicu protein BDNF yang fungsinya kayak "pupuk" buat menyuburkan saraf otak kita. Jangan lupa penuhi kebutuhan tidur 7-8 jam tiap malam dan konsumsi makanan sehat seperti ikan berlemak atau telur biar daya fokus tetap tajam. Berkat kemampuan neuroplasticity, otak kita itu fleksibel dan bisa pulih kok, asalkan kita konsisten mengganti kebiasaan buruk dengan hal-hal yang lebih produktif dan bermanfaat.
Referensi:
- Akbar Abi. (t.th.). Cara Memulihkan Fungsi Otak - brainrot, kekuatan neuroplasticity [Video]. YouTube.,,.
- Dinas Komunikasi, Informatika dan Statistik Kota Cirebon. (2025, 13 Januari). Waspada Brain Rot, Ancaman Akibat Konsumsi Konten Online Kualitas Rendah secara Berlebihan. Penulis: Elsi Yuliyanti.,,.
- Fadli, R. (2022, 8 Juni). Agar Selalu Fokus, Ini 8 Cara Tingkatkan Konsentrasi. Halodoc.,.
- Lestari, D. A., & Purwoko, S. A. (2024, 3 Juni). 7 Cara Bijak dan Aman Menggunakan Media Sosial. Hello Sehat. Ditinjau secara medis oleh dr. Mikhael Yosia.,.
- Makarim, F. R. (2022, 3 Februari). Cek Fakta: Kecanduan TikTok Bisa Picu Penurunan Kognitif Otak. Halodoc.,.
- Maulina, C. D. (2025, 13 Juni). Brain Rot: Gejala, Penyebab, dan Cara Mencegahnya!. Halodoc.,.
- Muhammadiyah Jateng. (2025, 3 Januari). Fenomena ‘Brain Rot’: Ancaman Nyata bagi Generasi Muda, Ini Kata Dosen UMS.,.
- Sekarningrum, A. (2025, 14 September). Logika Matematika: Antivirus Otak dari Brainrot Digital. Kumparan.,.
- Tyas, A. M. (2025, 18 Februari). Brain Rot: Fenomena Media Sosial yang Mengancam Kesehatan Mental. RS Marzoeki Mahdi.,.
- Wikipedia. (t.th.). Digital detox.,.

No comments:
Post a Comment