![]() |
| gambar : www.freepik.com |
Pagi di desa itu selalu datang dengan pelan, seolah tidak ingin mengganggu kabut yang masih bergelantungan di antara bukit-bukit. Zara sudah bangun sebelum matahari benar-benar muncul. Ia membantu ibunya memetik sayur di kebun kecil di lereng bukit—daun-daun basah oleh embun, dingin menyentuh jari-jarinya yang kecil.
“Ayo, Zara, nanti terlambat,” suara ibunya lembut, tapi tegas.
Zara mengangguk. Ia menyampirkan tas lusuhnya—yang sudah dijahit berkali-kali oleh ibunya—lalu berpamitan. Perjalanan ke sekolah tidak dekat. Tiga kilometer bagi sebagian orang mungkin biasa saja, tapi bagi Zara, itu berarti menuruni bukit, menyeberangi sungai kecil, lalu mendaki lagi sebelum akhirnya sampai di sekolah. Namun, Zara tidak pernah mengeluh.
Sepanjang jalan, ia ditemani suara alam. Gemericik air sungai, burung-burung kecil yang melompat dari dahan ke dahan, dan angin yang berlari di antara pepohonan. Kadang ia berhenti sebentar, menatap air yang jernih, membayangkan dirinya suatu hari bisa melihat dunia yang lebih luas dari desa itu.
Di dekat sungai, Rino sudah menunggu sambil melempar batu ke air.
“Kamu lama banget, Zara!” serunya.
“Bantu ibu dulu,” jawab Zara sambil tersenyum.
Tak lama, Deni dan Fani datang. Mereka berempat selalu berjalan bersama sejak kelas satu. Jalan panjang terasa lebih pendek ketika dilalui sambil bercanda—meskipun kadang mereka harus berhenti untuk mengikat sandal yang putus atau sekadar mengatur napas saat tanjakan terasa terlalu curam.
Sekolah mereka berdiri sederhana di atas tanah lapang kecil. Bangunannya terbuat dari papan-papan bekas, beberapa sudah miring dimakan usia. Atapnya dari seng tua yang sering berbunyi keras saat panas, dan lebih parah lagi—bocor saat hujan.
Hari itu, langit mendung. Di dalam kelas, hanya ada enam murid. Meja kayu sudah penuh goresan, dan papan tulisnya tak lagi benar-benar hitam. Guru mereka, Bu Lestari, harus mengajar dua kelas sekaligus hari itu.
“Anak-anak kelas tiga, kerjakan soal ini dulu ya,” katanya sambil menulis di papan. Lalu ia berbalik ke kelas empat di sudut lain ruangan.
Zara duduk dengan serius. Ia menggenggam pensil pendeknya dengan hati-hati, seolah itu benda paling berharga di dunia. Baginya, belajar bukan sekadar kewajiban—itu adalah jalan keluar. Jalan menuju sesuatu yang bahkan belum bisa ia bayangkan sepenuhnya.
Tiba-tiba, hujan turun. Awalnya hanya rintik kecil. Lalu menjadi deras. Atap seng mulai berbunyi keras, dan tak lama kemudian… tetesan air mulai jatuh dari beberapa titik.
“Ah, bocor lagi…” gumam Deni.
Fani cepat-cepat menggeser bukunya. Rino menaruh tasnya di atas meja. Sementara Zara, ia hanya memindahkan duduknya sedikit—lalu kembali menulis. Seolah hujan, bocor, dan segala keterbatasan itu… bukan alasan untuk berhenti.
Bu Lestari memperhatikan Zara dari kejauhan. Ia tersenyum kecil. Di tengah desa yang jauh dari teknologi, jauh dari kemewahan, ada seorang anak yang menyimpan sesuatu yang lebih kuat dari segalanya—keinginan untuk belajar. Dan mungkin, dari tempat sederhana itu, sebuah mimpi besar sedang tumbuh… perlahan, tapi pasti.

No comments:
Post a Comment