Monday, April 6, 2026

Zara – Episode 2: Hujan dan Sandal yang Hilang

gambar : www.freepik.com


Hujan tidak berhenti sejak pagi itu. Bukan hujan biasa—ini hujan yang seperti ingin tinggal lebih lama di desa mereka. Jalanan tanah berubah menjadi licin, sungai kecil yang biasanya jinak kini mulai meninggi, dan kabut turun lebih rendah, menutupi sebagian bukit. Zara berdiri di depan rumahnya, memandang jalan setapak yang mulai becek.

“Ibu… Zara tetap berangkat, ya,” katanya pelan.

Ibunya menatapnya sebentar. Ada ragu di matanya, tapi ia tahu anaknya itu tidak mudah menyerah.

“Hati-hati di sungai. Kalau airnya terlalu deras, jangan dipaksa,” pesan ibunya.

Zara mengangguk, lalu melangkah. Hari itu, perjalanan terasa berbeda. Tanah yang biasanya keras kini lembek dan licin. Beberapa kali Zara hampir terpeleset. Tapi ia tetap berjalan, menggenggam tasnya erat-erat. Saat sampai di sungai, ia melihat Rino, Deni, dan Fani sudah ada di sana. Air sungai naik. Tidak sampai meluap, tapi cukup membuat mereka ragu.

“Gimana ini?” tanya Fani, sedikit cemas.

“Kita tunggu sebentar aja?” usul Deni.

Rino menatap arus air, lalu ke arah Zara. “Kalau kita nggak berangkat, kita bakal ketinggalan pelajaran.”

Zara diam sejenak. Ia menatap air yang mengalir lebih deras dari biasanya. Lalu, tanpa banyak kata, ia melepas sandalnya.

“Aku duluan,” katanya.

“Hah? Zara!” Fani kaget.

Zara melangkah perlahan ke sungai. Air dingin langsung menyentuh kakinya. Arusnya kuat, tapi ia berhati-hati, mencari pijakan di antara batu-batu.

Rino segera menyusul. “Pegang tanganku,” katanya.

Satu per satu mereka menyeberang. Hampir sampai di seberang, tiba-tiba—

“Eh! Sandalku!” teriak Deni.

Sandalnya terlepas, terbawa arus. Mereka semua terdiam, hanya bisa melihat sandal itu hanyut semakin jauh.

Deni menunduk. “Ya udah… nanti aku jalan tanpa sandal.”

Zara menatapnya. Tanpa berkata apa-apa, ia membuka tasnya, lalu mengeluarkan sandal cadangan—sandal lama, sedikit sobek di bagian samping.

“Pakai ini aja, Den,” katanya.

Deni terkejut. “Lah, kamu gimana?”

“Aku biasa kok tanpa sandal,” jawab Zara ringan.

Padahal tidak sepenuhnya benar. Jalan setelah sungai penuh kerikil dan akar-akar tajam. Tapi Zara hanya tersenyum, seolah itu bukan masalah besar.

Mereka melanjutkan perjalanan. Setiap langkah Zara terasa lebih berat. Batu kecil menusuk telapak kakinya, tanah basah menempel, dan sesekali ia meringis pelan. Tapi ia tidak berhenti.

Sekolah akhirnya terlihat. Bangunan papan itu tampak lebih kusam di bawah hujan. Beberapa bagian atap sudah bocor bahkan sebelum mereka masuk kelas. Hari itu, hanya sedikit murid yang datang. Bu Lestari berdiri di depan kelas, wajahnya tampak lega melihat mereka.

“Kalian tetap datang… hebat sekali,” katanya.

Zara duduk di bangkunya, diam-diam mengusap kakinya yang sedikit lecet. Lalu ia membuka buku, seperti biasa. Hujan masih turun. Air menetes dari atap. Angin masuk dari celah dinding. Namun di dalam ruangan kecil itu, ada sesuatu yang tetap menyala—semangat yang tidak ikut basah oleh hujan. Bu Lestari menatap mereka satu per satu. Lalu berkata pelan, tapi penuh makna:

“Anak-anak, mungkin sekolah kita sederhana… tapi mimpi kalian tidak harus sederhana.”

Zara mengangkat wajahnya. Untuk pertama kalinya hari itu, ia tersenyum lebih lebar. Di luar, hujan belum reda. Tapi di dalam hati Zara… sesuatu mulai tumbuh semakin kuat.

No comments:

Post a Comment